Senyum Topeng Yang Kini Menangis

Posted on 12. May, 2009 by JB Red in Kabar Budaya

By : Saifuddin Zuhri

topeng-malanganTari Topeng Malang yang begitu membudaya di daerah Malang dulu pernah meraih puncak kejayaannya pada tahun 70-an. Kesenian ini mampu  membuat tenar nama Kota Malang sebagai rujukan kota wisata di wilayah Jawa Timur. Namun bagaimana nasib kesenian daerah yang pernah menjadi ikon Kesenian daerahnya kini ?

Ekspresi batin mereka di panggung even itu terlihat sumringah meskipun dalam hati sayu. Gerakan apik yang dimainkan oleh 12 pelakonnya sarat nilai estetis, namun terasa berat dijalankan ketika mereka mengaca pada kehidupan sehari-hari mereka sebagai pahlawan kesenian daerahnya.

(Tarian) Topeng Malang yang selama ini menjadi pemicu semangat dalam menghadapi aral rintangan kehidupan kini kurang mampu “memperjuangkan” nasib mereka. Namun di benak mereka tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan untuk saling bernegosiasi nasib agar seni ini tetap hidup dan menghidupi mereka. Di tengah momen Malang Kembali ini, para seniman ini bergulat dengan sang waktu agar tetap eksis di tengah hiruk pikuk pengunjung. (more…)

Rutinan : Perjumpaan Sosial dan Spiritual

Posted on 26. Feb, 2009 by JB Red in Kabar Budaya

istighotsahOleh Daman Huri

JB-SITUS-Pebruari 2009. Sejak siang, hujan terus mengguyur Kota Malang. Sesekali gerimis, sesekali lebat. Memang di sekitar bulan Januari-Pebruari hujan hampir menjadi tontonan harian bagi warga Malang. Seperti hari itu, Malang yang dingin terasa semakin dingin dengan gerimis yang tak kunjung  menuntaskan hajatnya. Meski begitu, suasana  Jumat Malam (12/2) di markas Averroes Community (AC) di Pondok ABM Permai Kav-A3 Mojolangu Kota Malang, nampak ramai. Bahkan semakin malam semakin ramai. Memang setiap dua minggu sekali di hari Jumat Malam, sekretariat NGO’s itu menjadi jujugan anggota komunitas AC berikut teman dan rekan. (more…)

Berburu Takjil di Sanggar Suci Lawang

Posted on 27. Sep, 2008 by JB Red in Kabar Budaya

jelajahbudaya-anak-kecil-kecilSITUS-JB-III-SEPTEMBER-2008.

Hening. Begitu kesan yang kutangkap saat aku memasuki sanggar peribadatan yang berada di Jl. Dr. Wahidin 36-38 Lawang Kabupaten Malang ini. “Orangnya lagi istirahat, Pak” jawab seseorang paruh baya yang mengaku sebagai tukang parkir dengan gaya yang agak cuek. Kompleks peribadatan umat budha ini terdiri atas tiga bangunan pokok, sebuah bangunan utama tempat pemujaan yang terletak dibagian selatan, sebuah candi berkubah putih nan megah di sebelah utara, dan komplek asrama yang berada di belakang candi. Bangunan utama itu nampak lengang. Didalamnya terdapat patung budha warna keemasan menghadap ke pintu masuk. Ada beberapa dupa yang terbakar di atas meja kecil, tepat di depan patung Budha itu. Di dinding banguan utama terdapat tulisan “Yayasan Sukhavati Bodhimanda Rumah Suci”. Dalam khazanah budhis bodhimanda berarti tempat untuk meraih pencerahan. Sanggar suci ini memang menjadi pusat peribadatan penganut Budha di Lawang dan sekitarnya.

(more…)

Menelisik Ritus Ngabuburit Ala Anak Muda di Malang

Posted on 27. Sep, 2008 by JB Red in Kabar Budaya

“Racun..racun..racun. Racun..racun..racun. Mati laju darahku. Takluk sudah hebatku. Hilang akal sehatku… Hilang akal sehatku, Memang kau racun…”

Oke, terima kasih semua dan selamat berbuka puasa…

jelajahbudaya-musik-racun-racun-di-malangUTAMA-JB-III-SEPTEMBER-2008. Astin dan Ranti, vokalis grup band Girl Fight, menyapa ramah ratusan penonton yang berkumpul di suatu senja. Berakhirnya lagu The Changcuters berjudul Racun menjadi penutup pentas musik sederhana yang digelar di areal parkir sebuah gedung serbaguna yang berada di Jalan Soekarno Hatta Malang. Ibonk, presenter muda yang selalu setia menemani “pesta ngabuburit” itu menuntaskan acara dengan senyum khasnya sembari mengingatkan kepada para pengunjung bahwa dirinya akan selalu menemani mereka sampai hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagian penonton mulai berbenah untuk berbuka puasa karena sang maghrib sudah singgah di Kota Malang, termasuk menghampiri kerumunan orang di sekitar jalanan Soekarno Hatta.

(more…)

Bahasa Madura dalam Ruang Pemaknaan The Others

Posted on 11. Jul, 2008 by JB Red in Kabar Budaya

brodin-150x150UBLIK-JB-II-Juli-2008. Pernah Nonton acara Din Brodin? Bagi masyarakat Jawa Timur yang punya pesawat televisi dan bisa menangkap gelombang Stasiun J-TV pasti pernah liat atau setidaknya mendengar tentang Din Brodin. Sebuah komedi situasi yang menampilkan tokoh bernama Brodin, orang yang ditampilkan sebagai sosok beretnis Madura dengan logat yang khas, lucu, konyol, lengkap dengan berbagai atribut “nyentrik” Madura ; songkok hitam, kaos loreng dan celana kolor hitam. Dalam panggung entertainment, khususnya pada aspek bahasa dan logat, Madura memang sering diproduksi sebagai komoditas humor. Waktu kecil kita mungkin juga mengenal sosok Mbok Bariyah, sang penjual rujak cingur dalam film Boneka Si Unyil. Dalam komedi Srimulat kita juga mengenal tokoh Kadir, yang menjadi lucu karena logat Madura-nya.

Seorang kawan Madura, sebut saja namanya Livo, mengaku merasa tersinggung melihat logat Madura hanya dijadikan bahan humor di televisi. Baginya fenomena seperti ini adalah pelecehan terhadap etnisnya. Sebenarnya tidak hanya Bahasa Madura yang sempat dijadikan sebagai bahan komedi, Bahasa Jawa Solo dan Bahasa Banyumas juga sering diperlakukan serupa dalam panggung hiburan. Hanya saja, tontonan tantang ke-Madura-an mungkin dirasakan lebih sensitif karena hal ini tidak hanya berkenaan dengan logat dan dialeg, lebih dari itu, ke-madura-an memiliki sensitivitas yang mengarah kepada ras dan etnis.

(more…)