Postradisionalisme Islam di Kalangan Muda NU
Posted on 24. May, 2009 by JB Red in Serba Serbi, Wacana Budaya
oleh: M. Nurun Najib
Beberapa dekade terakhir ini muncul fenomena baru di kalangan Nahdlatul Ulama yaitu tentang pembaruan wacana, yang sebelumnya hampir tidak pernah terjadi dalam organisasi ini. Pembaruan tersebut mencakup beberapa aspek, diantaranya adalah tentang gagasan dan pemikiran, keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan dan global. Kebanyakan gerakan pembaruan ini dimotori oleh anak-anak muda Nahdlatul Ulama yang kemudian seringkali disebut sebagai kalangan muda Nahdlatul Ulama (Sholeh, 2004). Mereka menganggap bahwa wacana yang ada pada Nahdlatul Ulama yang cenderung tradisional dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Kemudian kalangan muda ini menawarkan gagasan-gagasan baru yang seringkali disebut dengan post-tradisionalisme. (more…)
Post-Tradisionalisme Sebagai Alternatif Gerakan
Posted on 23. Feb, 2009 by JB Red in Wacana Budaya
Oleh Aliful Ma’arif
DATA BUKU
Judul : Post Tradisionalisme Islam; Wacana Intelektualisme
Dalam Komunitas NU
Penulis : Rumadi
Editor : Marzuki Wahid
Penerbit: Fahmina Institut
Tebal : XX + 382 hal, 15.5 x 23.5 cm
ISBN : 978-979-8442-05-06
Cetakan pertama, Maret 2008
Postradisionalisme merupakan suatu istilah gerakan kultural yang coba digagas oleh kalangan muda NU dengan mendasarkan pada ide-ide yang digagas oleh KH. Abdurrahman Wahid sebagai lokomotif gerakan intelektualnya, dan secara epistemologis mereka mendasarkan pada tokoh-tokoh pembebasan seperti Mohammad Arkoun, Hasan Hanafi, Nasr Abu Zayd dan Abed Aljabiri, berkenaan dengan wacana-wacana tentang pembebasan terhadap kuasa teks dan tradisi. Gerakan ini juga lebih menitik beratkan pada gerakan-gerakan Intelektual organik dengan menciptakan jejaring-jejaring NGO dan LSM yang memiliki kedekatan secara ideologis dengan NU sebagai media mengkampanyekan ide dan gagasannya tentang Postra itu sendiri.
Cultural Theory: British Cultural Studies
Posted on 15. Oct, 2008 by JB Red in Wacana Budaya
For about two decades, in many parts of the world, Cultural Studies (CS) has been moving into the mainstream of intellectual life, offering scholars interested in society and culture alternatives to old research paradigms (Hardt, 1989; Grossberg, 1997). (more…)
Idul Fitri dan Masyarakat Resiko
Posted on 29. Sep, 2008 by JB Red in Wacana Budaya
OPINI-JB-III-SEPTEMBER-2008. IDUL Fitri sebagai momentum kegembiraan masyarakat Muslim kali ini tidak hanya bermakna sebagai berakhirnya ritus ibadah di bulan puasa, namun jauh dari sekedar pelepasan rasa lapar dan dahaga itu sendiri, masyarakat Muslim dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: Apa wujud kongkrit atau aktualisasi dari kegembiraan itu. Masih mampukah masyarakat Indonesia menghadapi tantangan-tantangan yang kian lama tidak semakin ringan, justru sebaliknya. Inilah pertanyaan mahaberat yang harus menjadi refleksi kita bersama. (more…)
Kebangsaaan dalam Perspektif Politik Kebudayaan
Posted on 08. Sep, 2008 by JB Red in Wacana Budaya
Oleh Bisri Effendy
OPINI-JB-II-Agustus-2008. UNTUK mengawali perbincangan soai nation state, empat peristiwa penting yang terjadi pada 1908, 1928, dan dua kali pada 1945 perlu dilongok kembali. Keempat peristiwa yang terlanjur kita mitoskan sebagai hari-hari keramat dan selalu kita peringati tiap tahunnya, menjadi hari “kebangkitan nasional”, hari “sumpah pemuda”, hari “proklamasi kemerdekaan”, dan hari “pahlawan”. Hari-hari yang sangat akrab di dalam memori pekerja kantoran, anak-anak sekolah, dan pejabat tinggi negara karena pada hari-hari itu mereka harus tepekur sejenak, membaca ulang pancasila, ziarah ke makam pahlawan, lalu libur bekerja. Tentu, tidak demikian bagi petani, buruh non-industri, pekerja sector informal, dan setingkat itu yang hampir tak menyimpan memori hari-hari itu sebagai hari-hari keramat dan herois. Bahkan juga terhadap peristiwa ketiga, proklamasi kemerdekaan, karena yang mereka saksikan pada hari itu hanyalah keramaian kampung; berderet umbul-umbul dan bendera, segala bentuk perlombaan dari membaca puisi (deklamasi), balap karung, sampai panjat pinang, dan pertunjukan seni drama perang-perangan di malam hari. Atau paling jauh ditambah dengan pidato kepala desa atau carnat yang seolah menyaksikan atau rnengalami segala peristiswa yang terjadi saat itu sembari menyebut beberapa tokoh pejuang yang dia ingat karena selalu dicatat oleh buku sejarah, tetapi hampir pasti tidak menyebut begitu banyak warga kebanyakan yang dengan sukarela menyumbangkan (atau menyabungkan) nyawanya untuk kemerdekaan dan tidak pernah dikenal sebagai pahlawan.



Komentar Terbaru