Agus Sunyoto: Hubungan dengan Tuhan Itu Bisa Langsung Secara Pribadi
Posted on 08. Mar, 2008 by JB Red in Kabar Budaya
UTAMA-JB-I-Maret-2008. Dalam khazanah peradaban Islam, praktik penyesatan memiliki sejarah yang panjang. Konteks yang melingkupinya pun tak jarang melibatkan nuansa politik dan menghadirkan campur tangan penguasa. Dalam mengkaji beberapa aspek yang mengiringi tindakan penyesatan itu, menarik untuk menyimak petikan wawancara dengan Agus Sunyoto, penulis buku Suluk Abdul Jalil yang kini tengah menggagas Pesantren Global dalam mempersiapkan ‘perang’ globalisasi tahun 2015.
Akhir-akhir ini banyak kasus penyesatan, pendapat anda?
Sebelumnya begini, kasus-kasus penyesatan yang akhir-akhir ini muncul harus dilihat, apakah muncul dengan sendirinya atau setting. Kalau setting jelas ini dimunculkan oleh teori Samuel Hungtington, perang peradaban itu. Pasca runtuhnya komunis, Islam diposisikan sebagai pengganti (ideologi) komunis. Islam dianggap sebagai kekuatan ekstrim, teroris, sehingga muncul clash civilization itu. Kemudian ini (konflik bernuansa agama) dimunculkan dan disorot dunia. Inilah Islam, anarkhis, suka ngamuk, dan melakukan aksi sepihak seperti komunisme. Ini nanti yang ancur Islam, jelas koq. Islam dicurigai di mana-mana. Makanya kasus seperti ini harus disikapi dan dikaji secara mendalam.
Kemudian, apa sih kewenangan MUI menyatakan ini sesat ini tidak. Kalau dia mempunyai kewenangan seperti itu saya ingin MUI itu diubah namanya menjadi Majlis Ahli Surga, tentu sorganya mereka mereka sendiri. Selama tidak tidak jelas mereka ahli sorga, jangan menilai yang lain ahli neraka, sesat. MUI itu khan bikinan orde baru untuk mendukung pemerintah, makanya dilembagakan. Mana ada dahulu ulama dilembagakan. Tidak ada. Zamannya Mbah Hasyim (KH Hasyim As Asy’ari) dan Kiai Mas Mansyur ulama itu tidak dilembagakan.
Dalam sejarah sufisme, kasus penyesatan khan bukan hal baru?
Tinggal kita melihat perkembangan itu begini. Sistem pengetahuan yang ada di Jawa itu ada dua. Yang pertama pengetahuan yang dinamakan ngelmu, berupa analisis dan penalaran dari pemikiran. Istilah ngelmu ini berasal dari bahasa Arab, Al‘ilmu, yang digunakan untuk mengenal alam materi, alam ciptaan yang kasat mata, pengembangannya pada paradigma, dogma, pemikiran dan ilmu pengetahunan. Yang kedua, pengetahuan yang berupa kaweruh, dari kata weruh. Itu pengetahuan intuitif yang berangkatnya dari hati manusia untuk mengenal sesuatu yang bukan benda. Begitu Hindu, Budha, Islam masuk di Indonesia kedua pengetahuan ini dikembangkan secara seimbang. Kaweruh ini yang dalam bahasa arab disebut ma’rifah. Dalam pengetahuan Islam, Fiqh misalnya, yang lebih mengedepankan ilmu, pengetahuan nalar, aqli, meskipun juga didukung dengan naqli yang lebih bersifat keyakinan. Tasawuf itu beda, dia lebih mengedepankan makrifah, zauq (perasan), karena itu lebih mengkedepankan hati. Karena itu paradigmanya juga lain.
Penyesatan Al Hallaj misalnya lebih karena aspek politis. Pemahaman tentang wahdatul wujud, Al Ittihad, dan hulul kemudian dianggap sesat. Padahal ketika mau dijatuhi hukuman mati, dia (Al Hallaj) ditanya, “Apa permintaanmu terakhir?”. Dia jawab, “Ijinkan saya sholat dua roakaat”. Al Hallaj juga aholat. Jadi dia dianggap sesat, murtad, itu di mana? Dia juga dituduh syi’ah yang ekstrim. Lha wong amaliyah tarekat-nya, silsilah sampai ke Abu Bakar Ash Shiddiq, koq dianggap sesat. Khan konyol pandangan ulama’ dahulu itu. Ini pertimbangan politik. Kasus di Indonesia juga sama, Syeikh Siti Jenar juga begitu.
Dalam penyesatan Syeikh Siti Jenar secara politis bagaimana?
Kesalahan Syeih Siti Jenar itu dia memotong silsilah tarekat. Karena dahulu itu ada kecenderungan semua guru, silsilah tarekat harus dari Arab, mursyid juga begitu. Itu yang oleh Syeikh Siti Jenar ditentang. Kemudian apa, orang jawa tidak bisa menjadi mursyid (guru) thariqah. Dari Abu Bakar As Shiodiq langsung ke Syekh Siti Jenar, kamu boleh jadi mursyid dan ajarkan sebagai orang Jawa. Kenapa, Gusti Allah itu bukan hanya milik orang Arab, dan Islam tidak mengenal pewarisan yang turun temurun seperti itu. Itulah kesalahan Syekh Siti Jenar, mengangkat derajatnya orang Jawa, orang Sunda, pribumi, bahwa orang pribumi boleh berhubungan dengan Tuhan. Tuhan tidak membatasi kebangsaan seseorang. Apalagi dia mengajarkan hubungan dengan Tuhan itu bisa langsung secara pribadi, langsung saja tidak perlu pakai perantara. Akhirnya orang-orang banyak yang sembahyang sendiri-sendiri tidak setor kepada ulama.
Istilah rakyat, atau roqyah atau masyarakat, kalau tidak ada Syeikh Siti Jenar anda tidak akan mengenal istilah itu. Yang anda kenal kawula, kalau orang sunda abdi, kalau di tanah Melayu sahaya, artinya juga budak. Syeikh Siti Jenar tidak, insun (aku). Sultan dahulu itukan disembah-sembah. Ini yang ditentang Siti Jenar, pengikutnya banyak yang tidak patuh, melawan. Karena kalangan Keraton jumlahnya banyak, Siti Jenar sedikit, dihabisi. Jadi gerakan revolusi sebenarnya Syekh Siti Jenar itu, baginya masyarakat itu bukan kawula. Dia yang menyadarkan orang kepada hak dasar manusia bahwa rakyat bukan budak.
Ada anggapan bahwa sufisme meremehkan masalah syari’at sehingga muncul penyesatan?
Dalam tasawuf, sesuatu yang sifatnya syar’i, ini sering kali itu malah berlebihan (kuantitas dan kualitasnya). Sembahyang itu sampai 70 rokaat. Kayak itu tadi (Ali Thoha), puasa seumur hidup. Malah berlebihan. Karena, dia menganggap dunia itu tidak ada apa-apanya (dibanding beribadah). Gak ada ceritanya meremehkan syariat itu. Malah yang sering muncul anggapan bid’ah karena ditambahi. Lha wong mengingat Allah itu tidak dibatasi koq. Lebih konyol lagi tasawuf itu tidak membahas sorga dan neraka. Sekalipun mereka yaqin, itu (sorga-neraka) haq ada, itu semua makhluk ciptaan. Dia hanya menuju satu titik, Tuhan.
Dalam tasawuf yang penting tauhid. Makanya dalan ajaran Siti Jenar yang paling tinggi itu ingat kepada Allah, dzikrullah. Dalam kelompok kejawen itu ada ungkapan eling kang utomo. Eling artinya dzikir. Sembahyangpun tidak ada artinya kalau tidak ingat kepada Allah. Banyak orang yang sholat, tahajjud di masjid, tetapi pikirannya tidak eling kepada Allah, yang dingat urusan dunia dan jabatan. Makanya dalam Serat Syeikh Siti Jenar itu dikritik, “Badannya sholat tetapi pikirannya mencuri”. Jadi sebetulnya itu, anggapan sesat atau tidak itu tergantung orang yang memandang. Tetapi bagi sesama orang tasawuf ya nggak akan menyalahkan. Kenapa, karena tasawuf itu masalah qolb (hati). Jadi tidak di tasawuf itu (menghakimi) ini sesat. Karena kesesatan itu definisi akal, kalau sudah akal itu, kesombongan, pamrih muncul di situ. Karena yang dikenal akal hanya yang nampak. Kenapa tasawuf itu bisa berkumpul, berdiskusi dengan pendeta Hindu, Bhuda, memperbincangkna tentang Illahi meskipun namanya beda. Itu bisa (dilakukan) karena ya hatinya bertemu.
Levi Riansyah
email: rian_nu at yahoo.co.id



Salam kenal……saya mau gabung di milist ini….silakan mampir di http://www.quantum-meditation.blogspot.com
Salam hangat dari kami. Dengan senang hati dan tangan terbuka kami menerima kehadiran Anda. Ditunggu kabar berikutnya ya…Thx
salam…
saya ingin bergabung di milist ini.
Ada yg tau dmana makam kanjeng syeh siti jenar?tlg kasih tau donk,saya ingin memeluknya
HUDA..KAMU ADA2 AJA…BUAT APA NGEJAR KURUNGAN KALAU AYAMNYA SUDAH LEPAS WAKKKKKK
saya juga ingin gabung. gimana cara gabungnya?
Kesesatan siti jenar karena ia mengajarkan sholat daim. Siti jenar itu orang bagdad bukan orang jawa (suku bangsa melayu)
HUDA……MEONG….Lho
hmm.. sebelum nya maaf buat bpk Surya alam. ucapan anda nampak terlihat kesombongan dgn mengatakan kesesatan ajaran siti jenar. apakah anda memang benar dan mempunyai data otentik tentang diri siti jenar itu dari bagdad?kalau anda tidak sepaham dgn ajarannya setidaknya itu bukan masalah anda,jadi tidaklah pantas anda memvonis siti jenar itu sesat. dan apakah anda udah yakin seratus persen ibadah yg anda lakukan sudah di terima Allah ?? mungkin anda sudah tau bahwa di dalam islam terbagi dalam banyak aliran,jadi janganlah merasa yakin cuma aliran anda yg benar? dari sikap seperti itu sudah nampak siapa anda.dalam urusan keyakinan anda tidak berhak mengatakan yakinan orang lain itu salah dan keyakinan anda yg paling benar!memang anda siapa?
Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah,maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.?Dan siapa yang disesatkan oleh Allah,maka tidak ada yang dapat menunjukinya.?(Al-hikam)
Pak suryo alam ada diposisi mana??Yg jelas syeikh siti jenar ada di posisi yg pertama.
Bravoo..pak jaya langit.
Untuk pak suryo alam”Saya melihat Allah merokok,maen hp,bahkan Allah bisa internetan”
kapan dong bisa ketemu?? seru nehc kita udah mencari kebenaran kemane2 nahc mas agus sunyoto ini yg membuka pikiran .kapan ketemu mas agus inihc
slm beroleh rahmat buat semua umat muhammad,sy sebenarnya amat kagum dengan tauhid yang di miliki oleh skh siti jenar.apa mungkin masih ada yang mewarisi ilmu beliau lantas mengembangkan sehingga ke hari ini.lillahi sy ingin tahu dimana dan siapa muryidnya.Ada yang bisa sy hubungi.(amad – malaysia)
bisa bahkan disuruh, jika kamu sholat perasaanmu seolah-olah berhadapan langsung dengan tuhan, jika tidak bisa, kamu merasakan seolah-olah dipandang tuhan (memang selalu dipandang) jikat tidak bisa seolah-olah kamu diawasi gurumu, jika tidak bisa, bagaimana lagi?
Assalamualaikum Wr.Wb.
Salam kenal untuk semua.
Saya pemula di dunia gaibni.
Ingin bergabung u cari ilmu.
Saya dikit penasaran,katanya dalam tasawuf itu yg utama tauhid,lalu kenapa iblis yg ‘bertauhid’ itu dilaknat Allah hanya karena membangkang sebiji perintah_NYA saja ?
Kalau mengikuti pendapat orang lain, biasanya gampang tersesat, apa itu pendapat resi, pendita, wali, kyai dsb. Katanya suruh “percaya pada diri sendiri”. Semua berujung pada duit, biarpun resi, pendeta, kyai, wali, kalau masih bertujuan “mengumpulkan uang”, ya sama aja bo’ong, alias textbooks thinking. Kalau sudah tahu “keblat papat lima pancer” dan sudah bisa “ngrukokake bedug mekah” .. nah .. katanya baru hebat. Yang mencari adalah yang dicari, dan kalau dapat membedakan antara : pikiran, yang memikir, dan yang dipikir; nanti bisa kelihatan kok. Maaf, ini ikut2 nimbrung.
assalamualaikum wr wb..
Pak agus . saya dari pondok pesantren miftahulhuda almusri cianjur.
begini pak agus… kalu bisa buku perjalanan suluk syah abdul jalil di filmkan.
artinya biar masyarakat jelas bahwa fatwa yang dibawa syah abdul jalil/ syah lemah abang itu bukan fatwa sesat, mengingat bahwa masyarakat lebih tertarik nonton film ketimbang baca buku.
terimakasih
wassalamualaikum wr wb