Tentang Pasar dan Mall
Posted on 28. Sep, 2008 by JB Red in Serba Serbi
UBLIK-JB-III-SEPTEMBER-2008. Lebaran memiliki beragam makna bagi orang yang merayakannya. Setelah sebulan penuh ditempa dalam agenda peribadatan yang padat, lebaran menjadi titik balik untuk mendapatkan martabat kemanusiaan yang lebih baik. Lebaran dimaknai sebagai proses reinkarnasi (kelahiran kembali) menuju kesucian jiwa. Lahir kembali sebagai bayi yang masih suci dan bersih.
Lebaran juga dimaknai sebagi ritus pergumulan sosial. Banyak orang yang memanfaatkan momentum itu untuk saling berjumpa, berkunjung, dan bersilaturrahim, saling meminta maaf kepada teman dan kerabat. Ritus inilah yang menggerakkan para perantau untuk mudik ke kampung halaman dengan berbagai “perjuangan”, dan terkadang sampai memaksakan diri.
Karena begitu spesialnya, saat menyongsong lebaran begitu ramai orang tergerus beragam kesibukan. Kesibukan persiapan mudik ke kampung halaman, kesibukan membikin kue, dan kesibukan untuk shopping di Mall atau pusat perbelanjaan. Setiap membincang tentang mall, otakku selalu berasosiasi kepada sesuatu yang negatif; Kapitalisme, perputaran uang ke pemodal asing, konsumerisme dan sebagainya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Ramadhan dan lebaran menjadi salah satu momentum yang dimanfaatkan betul oleh semua Mall (di seluruh dunia) untuk menggenjot omsetnya.
Karenanya, berbagai diskon dan banting harga dilakukan dengan propaganda besar-besaran untuk menjerat pembeli. Poster bertuliskan “Diskon 50 %!”, “Beli dua dapat satu!”, ” Harga mulai Rp.30.000″ dan sebagainya sering menghiasi stand-stand pakaian di Ramayana, Matos, Matahari, wa ‘alaa aliihi wa shohbihi ajma’iin.
Memang aneh negeri ini. Di tengah krisis berkepanjangan, kenaikan harga BBM yang berdampak pada penurunan daya beli, namun hiruk pikuk penjualan di mall seakan makin ramai saja. Mengapa orang masih suka pergi dan belanja di mall? Mengapa orang tidak membeli barang di pasar yang harganya lebih “merakyat”? Nah ini dia yang mau dibahas dalam Ublik kali ini. Bukan untuk mengulas tentang teori kapitalisme yang semakin hari semakin membingungkan, namun lebih pada sebuah pengalaman melelahkan di Pasar Besar Malang.
Beranjak dari keinginan untuk menemani teman berbelanja, untuk pertama kalinya aku mendapat kesempatan masuk ke Pasar Besar berburu gamis untuk berlebaran. Pusat perbelanjaan seakan menjadi “padang mahsyar’ saat hari-hari menjelang lebaran termasuk pasar. Pasar adalah sebuah tempat yang konon menjadi tempat bagi masyarakat kelas bawah untuk mencari berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Panas, pengap, bau, dan berjubel. Begitu pengalaman yang kurasakan saat itu. Capek banget. Untuk dapat mengakses dan memilih barang yang dicari, harus ngantri beberapa lama untuk dilayani. Yang bikin keki, di pasar,”gadis-gadis” kampus berpakaian ketat “hampir” sulit dijumpai. Kalaupun ada, wajah mereka nampak suntuk sehingga yang liatpun tambah semakin suntuk.
Aku tidak tau mengapa teman yang mengajakku pergi ke pasar ini lama sekali menemukan “barang yang disuka”. Setiap ingin melihat-lihat sesuatu, harus berhubungan langsung dengan penjual. Terlebih selalu lama dia berdiskusi tentang harga dengan penjual. Entah berapa rupiah sebenarnya selisih harga yang dia cari sehingga lebih memilih pasar besar ini daripada di Mall-mall yang harganya jelas sehingga tidak perlu banyak berdebat. Akupun berfikir, apakah benar orang beli pakaian di pasar “diuntungkan” jika harus membuang waktu sekian jam, meski barang yang dibeli lebih murah dibandingkan di toko-toko.
Dalam hati aku bersumpah tidak akan lagi pergi ke pasar untuk beli baju, apalagi menjelang lebaran, meskipun hanya untuk mengantar teman. Aku kemudian bisa memahami betul mengapa anka-anak muda gaul malas untuk berburu barang di pasar. Tidak sekedar citra mungkin, namun mereka menghindari “belanja melelahkan” dan malas bernegosiasi karena ketidakpastian harga. Tak heran mengantar istri belanja ke pasar bagi beberapa teman adalah sebuah keterpaksaan (untuk tidak menyebut sebuah ‘penyiksaan’). Lebih menyakitkan lagi jika “pengorbanan” itu hanya sekedar mengejar harga psikologis, alias selisih 5-10 ribu dari harga di toko.
Belum harga barang di Mall lebih mahal. Kalau orang tidak pandai menawar bisa jadi dia dapat barang dengan harga lebih mahal ketika pergi kepasar. Begitu kata-kata seorang kawan setelah menceritakan pengalaman buruknya saat membeli Rice cooker di pasar besar. Ternyata barang itu dengan merek dan seri sama dijual dengan harga lebih murah di toko-toko elektronik. Rugi berapa dia gara-gara beli barang di Pasar Besar. Belum lagi waktu dan tenaga karena harus berputar-putar di lorong-lorong yang peruh sesak dengan orang.
Namun bagi orang yang sudah “berpengalam”, belanja ke pasar besar -seperti seorang kawan yang kuantarkan siang itu- akan menghemat beberapa persen dari anggaran belanja. Di Pasar Besar Malang itu hanya dengan Rp. 70.000 sudah dapat membawa pulang sebuah baju koko dengan kualitas menengah. Menurut temanku itu, kalau di toko baju koko tersebut berkisar antara 150 ribuan. Fantastis, hampir 50%. Sebuah kebanggaan yang luar biasa mungkin baginya karena berhasil menghemat pengeluaran. Meski aku belum yakin apakah baju koko dengan merek seperti itu jika dibeli di toko harus dibayar dengan kali lipat. Aku enggan membuktikannya, selain karena capek, aku tidak ingin “menggugat” kebahagiannya karena berhasil mengejek mall-mall yang menjual baju kok dengan harga yang tidak bisa ditawar.
Mungkin tidak semua orang memiliki kemampuan dan pengalaman seperti dia dalam bertransaksi di pasar. Ini harus kuakui, dan aku salut kepadanya. Tidak banyak anak muda yang kutemui cukup konsisten membuat berbagai alternatif belanja di pasar, apapun alasannya. Meski kalau disuruh memilih, aku lebih suka belanja di toko yang ada AC-nya, ada ceweknya, akses untuk melihat barang-barang lebih mudah tanpa harus meminta izin kepada penjualnya, bersih, tidak bau, dan kenyamanan-kenyaman lainnya. Antek kapitalisme? Konsumtif? Musuh Pedangang kaki Lima? Ah, terserahlah. Yang penting aku berkesadaran dalam memilih dan membeli barang. Aku hanya akan beli barang yang betul-betul aku butuhkan dan dengan harga yang murah. Tanpa ke pasarpun aku bisa menemukan barang-barang murah dan lebih mempertimbangkan nilai guna daripada merek. Di Mall juga banyak dijual pakaian “murahan”.
Membeli pakaian di mall atau toko-toko tidak selalu berarti mendorong arus perputaran uang ke pemilik modal (yang biasanya bercokol di luar negeri) yang berakibat penindaasn kepada kaum buruh (rice to buttom?). Melihat semakin banyaknya SPG di mall (dengan gaji minim tentunya, paling 500-700 ribu) maka tidak ada salahnya kita membeli barang di sana. Kalaupun ingin membantu anak-anak SPG itu (yang menurut Marx, termasuk dalam kelas buruh) dengan mengasih THR secara langsung misalnya. Atau menghormati keberadaan mereka, juga mengagumi kecantikan mereka tanpa diwujudkan dalam tindakan dan kata-kata yang melecehkan.
Membeli di pasarpun belum tentu menggugurkan kewajiban untuk “berpihak” kepada masyarakat lemah. Setahuku, para penjual di kios-kios pasar kebanyakan orang-orang kaya juga. Seorang Bapak penjual kain saat kutanya bagaimana omset penjulaannya hari ini. dia menjawab dengan rasa syukur sembari menyatakan bahwa cukuplah buat naik haji bersama dua istrinya dua tahun sekali. Wow dahsyat. Dalam kategori Marx, bapak penjual sekaligus pelayan di kios kain itu ternyata adalah seorang borjuis tulen. Gilee beneer. Andai saja semua orang yang memiliki kios di pasar memiliki pemikiran seperti bapak ini, tidak bisa dibanyangkan berapa trilyun pasar ini telah menyumbang pertumbuhan perekonomian Saudi Arabia.
Pasar dan Mall memang berbeda. Memang betul, bahwa ada perbedaan yang mencolok antara harga komoditas pasar yang murah( di kios-kios tertentu) dan harga komuditas super mahal di mall (yang bukan di stand obral murah tentunya). Seorang ibu misalnya dia bercerita bahwa di Pasar Besar itu dia terbiasa membeli beberapa CD (celana dalam) cuma 5000-an. Dia sempat kaget saat berjalan-jalan dengan anaknya di sebuah mall yang dekat dengan kampus. Pasalnya dia baru tahu ternyata ada CD yang harganya mencapai 78.000 di situ. Perbedaan harga yang mencolok ini tentu saja perlu direfleksikan. Bagaimana orang bisa “terbiasa” dengan perbedaan harga ini. Bagaimana kesenjangan antara rakyat atas dan rakyat bawah dalam hidup sehari-hari cukup jelas ditampakkan di depan mata, dalam konteks mengkonsumsi CD misalnya? Bebal betul kita ketika melihat fakta ini dengan menganggap wajar-wajar saja.
Ternyata hanya dengan belanja CD sang ibu bisa merefleksikan tantang kesenjangan sosial. Luar biasa. Sebuah refleksi yang menurutku jarang hinggap dalam benak kita. Begitu banyak hal remeh yang seharusnya selalu kita sadari termasuk dalam memberi barang. Bukan masalah kita beli barang dimana. Di pasar maupun di Mall, bagiku sama saja. Namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita mengenali, memaknai, dan mengendalikan pola konsumsi kita. Bagaimana pola konsumsi selalu dikontrol agar tidak berdampak pada penindasan terhadap orang-orang kecil baik langsung maupun tidak. Dalam bahasa agama, kesadaran ini maqomnya adh’aaf al iman dalam konteks melawan kapitalisme yang kian menggila dan canggih.
sumber gambar:
http://www.geocities.com/designastudio7/londo/107A.JPG
http://www.geocities.com/designastudio7/londo/107B.JPG



pasar adalah mall yang………
mall adalah pasar yang……………
tx